Selasa, 18 Desember 2012

PENGARUH MODERNISASI TERHADAP KESEHATAN MENTAL SANTRI


BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Arus modernisasi membawa dampak positif sekaligus negatif bagi kehidupan umat manusia. Satu sisi modernisasi menyodorkan beragam kemudahan dalam bidang komunikasi dan transportasi. Namun, di sisi lain, ternyata modernisasi melahirkan dampak yang merugikan bagi kehidupan umat manusia, bahkan mempengaruhi para santri yang hidupnya selalu diawasi pengurus dan dinaungi dalam lembaga pendidikan agama islam. berbagai problem semakin kompleks, baik yang bersifat personal maupun social. Manusia modern telah terperdaya oleh produk pemikirannya sendiri karena kurang mampu mengontrol efek sampingnya, yaitu rusaknya lingkungan yang memporak-porandakan kenyamanan kehidupanya sendiri.
Dalam suatu penelitian terhadap masyarakat barat, dikemukakan bahwa salah satu dampak buruk dari gaya hidup modern, seperti di Negara-negara industry, adalah munculnya berbagai problem sosial dan personal yang cukup kompleks. Problem tersebut antara lain berupa ketegangan fisik dan praktis, kehidupan yang serba rumit, kekhawatiran atau kecemasan terhadap masa depan, semakin tidak manusiawinya hubungan antarindividu, rasa terasing dari anggota masyarakat lainnya, tali hubungan kekeluargaan yang renggang, terjadinya penyimpangan moral dan sistem nilai, serta hilangnya identitas diri (Farid Mashudi, 2012:172).
Dalam kaitanya dengan penyimpangan moral dan system nilai, santri yang identiknya agamis dan berakhlak mulia mengalami perubahan akibat modernisasi ini. Salah satu akibatnya para santri mengalami masalah-masalah kesehatan mental yang mempengaruhi cara mereka berfikir, merasa dan bertindak. Hal ini bisa dilihat dari keseharian para santri di pondok-pondok yang pernah saya kunjungi untuk belajar. Atau dapat dilihat dari teman-teman anda yang santri. Perubahan ini bukan berarti menjadi santri adalah buruk, bahkan menjadi santri adalah jalan terbaik menuju kebahagian dunia dan akhirat. Masalahnya adalah kalau para santri yang kesehariannya selalu diawasi dan dibimbing itu sudah terpengaruhi oleh sisi negatif modernisasi, bagaimana yang hidupnya bebas, jauh dari agama dan minim pengawasan?!. Oleh karena itu masalah ini sangat penting untuk diangkat dan dikaji. Karena sangat sedikit sekali yang membahas khusus masalah kesehatan mental santri atau bahkan tidak ada. Setidaknya penulis mendapatkan hikmah dan pelajaran dari makalah ini. Walaupun hal ini dimotifasi oleh tugas UAS Bahasa Indonesia di jurusan Bimbingan Konseling Islam di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
B.       Rumusan Masalah
Dilihat dari berbagai aspek mengenai perceraian, penulis merumuskan masalah berikut.
1.         Apa pengertian dari kesehatan mental?
2.         Apa pengertian dari modernisasi?
3.         Siapakah santri itu?
4.         Apa pengaruh modernisasi terhadap kesehatan mental santri?

C.       Tujuan Penulis
Dengan makalah ini, penulis bertujuan agar dapat memberikan kesadaran bagi para santri dan masyarakat luas akan bahayanya pengaruh moderenisasi, dan memberikan pengertian tentang kesehatan mental. Sehingga mereka dapat berusaha meperbaik diri. Tentunya penulis juga dituntut untuk merubah kesehatan mental sendiri.











BAB II
PEMBAHASAN
a.        Landasan Teori
Dalam hal ini, untuk menganalisis masalah penulis merujuk teori-teori dari beberapa ahli, antara lain :
1.      Dikutip dari buku yusak burhanuddin yang berjudul Kesehatan Mental mengatakan bahwa di dalam buku Hygiene Mental dan Kesehatan Mental Dalam Islam karya Dr. Kartini Kartono dan Dr. Jenny Andary, Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan mental/jiwa, yang bertujuan mencegah timbulnya gangguan/penyakit mental dan gangguan emosi, dan berusaha mengurangi atau menyembuhkan penyakit mental, serta memajukan kesehatan jiwa rakyat.
2.      Prof. Dr. Zakiah Daradjat mengatakan bahwa yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Kesehatan mental itulah yang menentukan tanggapan seseorang terhadap suatu persoalan, dan kemampuannya menyesuaikan diri. Kesehatan mental pulalah yang  yang menentukan apakah orang akan menpunyai kegairahan untuk hidup, atau akan pasif atau tidak bersemangat.
3.      Frank, L. K. (Notosudirjo & Latipun, 2005) merumuskan pengertian kesehatan mental secara lebih komprehensif dan melihat kesehatan mental secara ”positif”. Dia mengemukakan bahwa kesehatan mental adalah orang yang terus menerus tumbuh, berkembang dan matang dalam hidupnya, menerima tanggung jawab, menemukan penyesuaian (tanpa membayar terlalu tinggi biayanya sendiri atau oleh masyarakat) dalam berpartisipasi dalam memelihara aturan sosial dan tindakan dalam budayanya.
4.      Michael dan Kirk Patrick (Notosudirjo & Latipun, 2005) memandang bahwa individu yang sehat mentalnya jika terbebas dari gejala psikiatris dan individu itu berfungsi secara optimal dalam lingkungan sosialnya.
5.      Notosoedirjo dan Latipun (2005), mengatakan bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dapat menahan diri untuk tidak jatuh sakit akibat stressor (sumber stres). Seseorang yang tidak sakit meskipun mengalami tekanan-tekanan.
6.      Agus Afandi mengatakan Secara epistemologis, teori modernisasi  merupakan campuran antara pemikiran fungsionalisme struktural dengan pemikiran behaviorisme kultural Parsonian. Para pendukungnya memandang bahwa masyarakat bakal berubah secara linier, yaitu perubahan yang selaras, serasi dan seimbang dari unsur masyarakat paling kecil sampai ke perubahan masyarakat keseluruhan; dari tradisisonal menuju modern. Pandangan teori modernisasi semacam itu diilhami oleh pengalaman sejarah Revolusi Industri di Inggris yang dianggap sebagai titik awal pertumbuhan ekonomi kapitalis modern dan Revolusi Perancis sebagai titik awal pertumbuhan sistem politik modern dan demokratis.
7.      Soerjono Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan social planning.
8.      Clifford Geertz memandang kehadiran Islam di Jawa telah
menyebabkan terbentuknya varian sosio-kultural masyarakat Islam di Jawa yang disebut Santri, yang berbeda dengan tradisi sosio-kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi. Tradisi sosiokultural Santri ditandai dengan wujud perilaku ketaatan para pendukungnya dalam menjalankan ibadah agama Islam yang sesuai dengan ajaran syari’at agama.
9.      Prof. Dr. Djoko Suryo mengatakan baik Geertz, Benda maupun para ahli Islam di Jawa lainnya, sependapat bahwa tradisi Santri dan kepemimpinan Kyai atau ulama merupakan unsur kebudayaan Islam-Jawa yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika kehidupan agama, sosial dan politik dalam masyarakat Jawa dan Indonesia. Kecenderungan ini berlangsung secara berkelanjutan dari masa tradisional sampai dengan masa kononial dan masa Indonesia merdeka. Tidak lain, karena tradisi Santri dan Kyahi, bukan hanya menjadi segmen sosial-kultural, melainkan juga menjadi basis kekuatan sosial dan politik. Dari perspektif historis dapat ditunjukkan bahwa tradisi Santri secara berkelanjutan telah menjadi basis kekuatan sosial politik pada masa awal pendirian kerajaan Islam Demak, Cirebon dan Banten di daerah pesisir utara Jawa dan pada masa kerajaan Mataram Islam di daerah pedalaman Jawa.
10.  Farid Mashudi mengatakan bahwa pendapat atau temuan para ahli semakin memperkuat asumsi bahwa semakin maju kota atau bangsa, semakin meningkat pula problematika kehidupan masyarakat. Pada giliranya, keadaan tersebut melahirkan masalah-masalah psikologis (kesehatan mental) bagi individu di dalamnya. Upaya yang dapat mengembangkan mental yang sehat dan meredam gejala gangguan jiwa/mental adalah dengan meningkatkan kesadaran beragama masyarakat, atau upaya come back to religion. Sebab, agama memberikan pencerahan terhadap pola berpikir manusia ke arah kehidupan yang sakinah, mawaddah, rahmah dan ukhuwah.

b.        Analisis
Dari beberapa teori, pengamatan dan pengalaman di atas, dapat diketahui bahwa kehidupan yang terlalu berorientasi pada kemajuan di bidang material (pemenuhan kebutuhan bilogis) telah menelantarkan manusia sehingga terjadi kemiskinan rohaniah dalam dirinya. Kondisi ini ternyata sangat kondusif bagi berkembangnya masalah-masalah pribadi dan sosial yang terekspresikan dalam suasana psikologis yang kurang nyaman, seperti cemas, stress, dan terasing, serta terjadinya penyimpangan moral atau sistem nilai.
Masalah ini sangat banyak menyita perhatian, terutama dari kalangan ulama, pengurus pondok pesantren, pendidik, pemuka masyarakat, dan orang tua. Sering kita mendengar keluhan orang tua yang kebingungan dalam menghadapi anak-anaknya yang suka diatur, keras kepala, atau nakal. Tidak sedikit pula guru atau pengurus pondok pesantren kebingungan menghadapi murid-muridnya yang tidak mau belajar, tetapi ingin naik kelas atau ingin lulus ujian. Sekarang giliran para santri yang jadi bahan omongan orang sekitarnya. Karena sering kali dilihat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh para kyai dan ustadznya. Bisa jadi, situasi ini semakin memburuk lagi di masa yang akan datang. Kalau para ulama dan pendidik tidak segera mengatasi masalah ini. Misalnya dengan pendidikan agama.
Dr. Yusak Burhanuddin menjelaskan bahwa ada peranan pendidikan agama dalam kesehatan mental, antara lain:
1.      Dengan agama, dapat memberikan bimbinganya dalam hidup.
2.      Ajaran agama sebagai penolong dalam kesukaran hidup.
3.      Ajaran agama dapat menetramkan batin.
4.      Ajaran agama sebagai pengendali moral
5.      Agama dapat menjadi terapi jiwa
6.      Agama dapat membina mental.
Selain itu para santri juga harus diberi nasihat secara intensif tentang bahayanya pengaruh negative dari modernisasi itu. Seperti memilih teman yang baik. Mengatur jadwal mereka dengan baik. Kapan mereka bermain dan belajar. Mengawasi kecenderungan mereka terhadap elektronik, seperti internet, telepon genggam, komputer dan sebagainya.
















BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kehadiran modernisasi banyak menimbulkan masalah-masalah, khususnya masalah kesehatan mental. Walaupun kehadirannya juga membawa kemajuan. Masalah ini tidak ada manusia yang dapat mengingkarinya, karena kita adalah makhluk sosial, yang berinteraksi setiap waktu dengan orang lain dan lingkungannya. Para santri pun tidak bisa menahanya karena mereka juga makhluk sosial.
Pendidikan agama adalah salah satu upaya untuk mencegah masalah kesehatan mental itu. Setidaknya dapat mengurangi masalah-masalahnya. Para ulama dan pendidik harus lebih siap, sigap, dan sabar dalam membimbing murid-muridnya. Dan member peringatan hati-hati bahwa kita hidup di zaman yang penuh cobaan ini.















DAFTAR PUSTAKA

Mashudi, Farid. 2012. Psikologi Konseling. Jogjakarta: IRCiSoD.
Burhanuddin, Yusak. 1999. Kesehatan Mental. Bandung: Pustaka Setia.
Daradjat, Zakiah. http://www.refleksiteraphy.com. Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.00 WIB.
Ramadhan, M. Arief. 2012. http://muhammadarieframadhan.blogspot.com Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.10 WIB.
­____. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17706/3/Chapter%20II.pdf Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.15 WIB.
___________. http://shindohjourney.wordpress.com/seputar-kuliah/makalah-masyarakat-modern-dan-kebudayannya/  Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.25 WIB.
Suryo, Djoko.  http://ploso.net/tradisi-santri-dalam-historigrafi-jawa.html. Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.35 WIB.
 ___________. http://ujiantosinggih.com/teori-teori-sosial/teori-modernisasi-dan-ketergantungan.html. Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.40 WIB.
___________. http://blog.sunan-ampel.ac.id/vidaza/2010/11/02/latar-belakang-munculnya-teori-modernisasi/. Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.45 WIB.
Triwibowo,Wisnu. http://noes-wizicha.blogspot.com/2012/01/analisis-teori-modernisasi-dalam.html. Diunduh pada tanggal 18 desember 2012 pukul 02.50 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar